Kisah Sedih Sabtu Malam Minggu


ibukuInnalillahi Wainna Ilaihi Rajiun, Masih terngiang di ingatanku 5 tahun yang lalu teptanya tahun 2008 adikku meninggal dalam kecelakaan, hari ini tanggal 18 Januari 2014, pukul 08.50 Malam, ibuku Meninggal Dunia, terasa lemas seluruh tubuhku, dan tak sanggup berkata-kata.

KISAH CERITA
Detik-detik kronologi
Bertepatan dengan hari libur maulid nabi Muhammad SAW tanggal 14 januari 2014, Ketika itu sore hari aku ditelpon kakak aku, aku tanya mengenai kabar ibuku,jawablah kakakku dengan tenang bahwa ibuku sedang di rawat di rumah sakit, betapa kagetnya aku, dan badanku langsung lemas dan meriang.
Aku tanyalah kakak aku kenapa ibuku bisa berada dirumah sakit, rupanya saya disuruh tanya ke kakak aku yang satunya lagi (huda), karena dia sedang berada di pabrik ketika itu dia sedang bekerja. Tanpa banyak waktu aku telpon segera kakak aku yang sedang dirumah sakit, bagaiamana keadaan ibuku ? Ibuku lagi berada di ruang gawat darurat dan masih belum sadar, semakin paniklah aku, segera aku pergi ke agen bus untuk mencari tiket bus pulang kampung dari jakarta, karena sudah sore hari, aku baru bisa dapatkan tiket bus keesokan harinya dan berangkat pada siang hari.

Perjalanan Pulang
Entah ini sebuah tanda atau apa, dalam perjalanan pulang naik bus di puterin film nenek gayung, film yang menceritakan orang meninggal minta dimandikan dan arwahnya gentayangan sambil membawa gayung, ketika dirumah sakit ibuku minta air di genok, padahal sudah jelas  air di genok itu tidak ada…….

Aku dijemput kakak aku di depan terminal, dalam perjalanan aku selalu meriang dan lemas karena takut akan kehilangan ibuku, Hp kakak aku selalu berdering supaya kita cepat tiba-tiba di rumah sakit karena kondisi ibuku sudah koma, setiba di depan rumah sakit aku melihat kakak perempuan aku lagi menangis akhirnya bertambah curiga dugaanku bahwa ibu aku sudah meninggal, diantarlah aku oleh kakak aku dengan buru-buru karena jenazah ibuku akan dimandikan.
Berjalanlah aku dengan terburu-buru masuk rumah sakit menuju kamar ibuku, sesampai disana aku langsung peluk ibuku, saya teriak-teriak saya suruh bangun,dan alhamdulillah ibuku terbangun dari koma, aku peluk ibuku dan iapun membalas dengan ciuman pipi kiri kanan, aku cium kening ibuku dengan penuh sayang, kondisi ibuku akhirnya mulai agak membaik.

Bapak aku cuek dan kakak aku terpengaruh
Selasa,Siang hari waktu itu kondisi ibuku sudah parah, napas sudah hampir putus, dan minta untuk ditemenin dan dijagain oleh kakak saya(sholihudin), namun ternyata kakak saya lebih mementingkan kerja daripada menjaga kondisi ibuku yang sedang kritis, setelah saya tanya kenapa alasannya …diapun berkata bahwa dia terpengaruh oleh bapak saya, bapak saya bilang kepada kakak saya bahwa ibuku itu manja/ngalem.
Ya Allah………… ditengah derita ibuku yang butuh kasih sayang ketika sedang kritis kakak aku (sholihuddin) dan bapak aku (Nur salim) meninggalkannya begitu saja dan menganggapnya manja, akhirnya ketika itu sore hari dengan sangat susah payah dia bangun  dari tempat tidur dan keluar minta pertolongan kepada kakak perempuan  saya (tsamroh),ibuku bilang dengan tertatih-tatih berucap “saya sudah tidak kuat…….”, akhirnya kakak saya berinisiatif untuk membawa ke rumah sakit, dan dirawatlah dirumah sakit selama 5 hari sampai maut menjemput.

Hari demi hari di rumah sakit
Ketika itu aku sampai di mojokerto kamis pagi, aku selalu menunggui ibuku dengan rasa harap dia akan segera pulih, aku selalu jagain dia seperti anak bayi, aku suapin, aku bangunin ketika dia tidak mampu untuk mengagnkat badannya, aku usap-usap, aku pijitin, aku jagain dia dari gigitan nyamuk, aku kipas-kipasin dengan tangan supaya tidak gerah, aku cek selalu kondisi cairan infus, suntikan, pokoknya segala kasih sayang  aku curahkan semua kepada ibuku, karena aku akan sangat menyesal jika disaat-saat terakhirnya aku tidak bisa berbakti semaksimal mungkin kepada ibuku.
Aku menjaga ibuku sampai jam 2 malam sendirian kadang ditemenin istriku, sementara kakak-kakak aku dan bapak aku sudah tidur, aku kuatkan diri aku meskipun dalam kondisi mengantuk berat, aku selalu siaga berdiri standby memantau kondisi ibuku, sampai kaki aku bengkak.

Hari Sabtu Naas
Waktu itu aku pulang kerumah untuk mandi sore, sms datang ke hp aku, betapa soknya aku ketika baca sms bahwa kondisi ibuku sedang drop dan kritis, aku langsung buru-buru menuju rumah sakit dengan kondisi badan kedinginan karena panik dan ketakutan, sesampainya di rumah sakit aku melihat kondisi ibuku sudah tidak sadarkan diri dengan napas yang terengah-engah, aku hanya bisa menangis dan membisikkan lafad allah di telinga ibuku  karena sepertinya sudah tidak ada harapan, akhirnya ibuku oun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ibuku meninggal ketika saya baru 2 bulan melangsungkan pernikahan, pertemuanku dengan ibuku di jakarta ketika melangsungkan pernikahan ternyata menjadi pertemuan terakhir   dan di saat-saat terakhirnya ibuku selalu menanyakan kapan keluarga istriku datang ke rumah, dan juga menanyakan apakah istriku sudah hamil, namun sayang sampai ajal menjelang keinginan ibuku tidak tersampaikan.
Ibuku yang selalu memperhatikan aku, memuji aku, merawat aku ketika sakit, yang memperlakukanku seperti raja ketika pulang kampung lebaran, kini tiada lagi saya melihat senyum ibuku,tawa ibuku, kasih sayang ibuku, kemana aku harus mengadu…………….sementara aku belum siap untuk kehilanganmu

Ibuku Hj.Fatonah ( 18 januari 2014 )
Betro,Kemlagi,Mojokerto – Written By Khabibkhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: