Inilah Kisah Agency Pengumpul Anak Alay


Pernah menonton acara Dahsyat di layar kaca? Salah satu program andalan RCTI tersebut punya ciri khas, bintang tamu yang beraksi selalu dikelilingi para penonton. Mereka berpolah layaknya pemandu sorak. Berjoget-joget sesekali ikut menyanyi.
kumpulan anak alay

banyak sebutan bagi mereka yang khusus datang ke stasiun televisi untuk menjadi penonton lalu dibayar. Alay, audiens, atau crowd.

Kutipan pengertian ALay menurut wikipedia

menurut wikipedia Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. “Alay” merupakan singkatan dari “anak layangan”atau “anak lebay“. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian. Alay merupakan sekelompok minoritas yang mempunyai karakterisitik unik di mana penampilan dan bahasa yang mereka gunakan terkadang menyilaukan mata

Tugas para penonton tersebut adalah mengikuti skenario yang sudah tersedia. Kadang-kadang hanya duduk manis mendengarkan pengisi acara. Atau, berjoget-joget dengan koreografi seragam. Sampai, kalau dibutuhkan, harus mau berteriak histeris untuk meramaikan acara.

Tak disangka, hal itu menjadi ladang pekerjaan baru. Selain bagi para pemandu sorak bayaran, juga untuk para pengelola jasa penyediaan penonton. Agensi, biasa mereka disebut, bertugas menyediakan sumber daya manusia untuk berbagai genre program televisi, mulai dari acara pengajian, acara musik, acara realitas, hingga gelar wicara.

Bisnis ini tidak bisa dikatakan betul-betul baru. Agency-agensi ini bermunculan sejak 2004. Tidak terpikirkan mungkin, tapi bisnis penyedia penonton ini (ternyata) menguntungkan.

DULUNYA JUGA PENONTON
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengumpulkan para penonton ini disebut koordinator penonton. Pihak televisi biasanya hanya berhubungan dengan sang koordinator untuk penyediaan penonton.

Para koordinator – yang biasanya juga sekaligus pemilik agensi – rata-rata juga mengawali karier mereka sebagai penonton. Seperti cerita Harsono Wahyudi, pemilik Harsono Management, yang kini memegang – salah satunya – program Dahsyat.

Mas Har, begitu ia biasa disapa – awalnya menjadi penonton program Ngelaba-nya grup komedi Patrio di TPI (sekarang MNC). Di awal tahun 2000, Mas Har menjadi penonton bersama Budi Anduk, Kiwil, Azis Gagap, dan Daus Sembako. “Bedanya sekarang, mereka udah pada jadi di depan layar. Saya juga jadi, tapi di belakang layar lanjut ngurusin penonton,” katanya.

Rina Putri yang kini memiliki agensi bernama Herina Agency juga punya cerita nyaris sama dengan Mas Har. Ia adalah penonton, salah satunya di program Realigi TransTV. Lama-lama ia berpikir, “Mengumpulkan orang untuk jadi penonton ini ternyata bisa jadi pekerjaan, ya.”

DARI RT SAMPAI MALL
Segala pelosok kota dijelajahi para koordinator penonton untuk mencari massa. Tempat pertama jelas lingkungan terdekat, yaitu rumah. Pola para koordinator ini ternyata sama: mereka mendatangi Pak RT.

Saat permintaan semakin banyak, mereka punya cara lain untuk mengumpulkan orang. Contohnya, mendatangi sekolah jika yang dibutuhkan anak sekolah, atau ke majelis pengajian jika yang dibutuhkan ibu-ibu.

Ketika diminta mendapatkan penonton remaja, di awal bisnis, Rina bercerita, sempat bingung. Ia kemudian memutuskan ke mal. “Mereka banyak yang mau, tapi banyak yang kabur satu-satu. Dikira saya mau jual orang,” cerita Rina.

Namun, seiring waktu, para agensi ini tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan penonton – bahkan jika permintaan berjumlah ribuan. Kuncinya, perluas pergaulan. Pada akhirnya, ketika pergaulan sudah luas dan relasi terjalin, kerja sama dengan banyak pihak penyedia massa berskala lebih kecil bisa lebih mudah.

Mas Har menyebut pihak-pihak yang tersebar di berbagai wilayah ini dengan koordinator lapangan (korlap). Koordinator lapangan ini sejak dulu, masih menurut Mas Har, sudah banyak. Tapi mungkin tidak ada yang mengolah. Mereka tidak tahu ke mana harus mencari pekerjaan. Maka dari itu, korlap-korlap ini bekerja sama dengan agensi yang lebih besar. “Misalnya, di Kedoya, ada Ibu Sofi. Di Bekasi, ada ibu ini. Di Cileduk, ada lagi siapa. Ya, yang penting saling menguntungkan saja.”

Koordinator penonton tidak memiliki kriteria khusus untuk merekrut orang. Semua serba standar. Mereka harus ekspresif, enak dipandang, mudah beradaptasi dengan segmen acara, dan profesional.

Kriteria lebih spesifik justru datang dari pihak televisi. Lain genre program, lain pula jenis penontonnya. Misalnya, Pesbukers di ANTV membutuhkan penonton yang ramai dan bisa diajak berbalas-balasan lelucon dengan pengisi acara. Mel’s Update lebih membutuhkan audiens yang berpenampilan menarik. Atau, Mantap membutuhkan remaja bersemangat.

Profesionalisme jelas penting. Biar bagaimanapun, mereka bekerja dan dibayar. Mas Har dengan lugas menjabarkan, pembagian honor didasarkan kelas.

“Misalnya, kalau Rp20 ribu, biasa saja. Kalau kelas B Rp50 ribu, yang lebih bagus penampilannya. Kalau eksklusif, ibu-ibu arisan, atau anak-anak yang cantik seperti figuran, kelasnya beda lagi. Kira-kira Rp75 ribu-Rp100 ribu,” urai Mas Har. Sementara, Yasmin Sanad, Manajer Corporate Communication ANTV, menunjuk angka, “Budget sekitar Rp30 ribu-Rp75 ribu, tergantung kelas.”
Ely Sugigi: Alay itu Apa? Kita Cuma Kerja!

“Sebenarnya alay itu apa sih? Kita cuma kerja kok. Lagipula nggak banyak yang berani kayak kita lho, mau joget-joget ekspresif di depan panggung dan kamera sambil dilihat banyak orang,Kita di sini cuma cari duit lho, saya kasihan sama anak-anak buah saya, mereka cuma cari uang buat kebutuhan mereka, untuk bayar kuliah sama ngehidupin orangtua”

Sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/50d7fba005346ab10e000067

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: