Mengenal Kampung-Kampung Islam di Bali


Sudah pernah pergi ke Bali belum ? Apabila kita mendengar kata bali maka yang terpikir dalam benak saya adalah kota wisata di indonesia yang terkenal di dunia internasional.
Kota ini dikunjungi oleh banyak wisatawan baik lokal maupun internasional setiap harinya. Salah satu Daya tarik kota ini adalah masih kuatnya adat istiadat yang dipegang teguh masyarakat. Sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu. Nuansa agama Hindu sangat kental di kota ini.

Namun dibalik kentalnya agama Hindu di kota Bali, terdapat beberapa kampung Islam yang berkembang di kota ini. Meskipun bukan menjadi mayoritas, tetapi Islam di Bali memberikan keragaman bagi kota ini.Kedatangan Islam di Bali bukan baru terjadi, tapi sudah sejak masa kerajaan. Dari sekian banyak perkampungan muslim di Bali, detikRamadan menghimpun 5 kampung di antaranya dari berbagai sumber, Rabu (1/8/2012).

Berikut kampung-kampung muslim di Bali:

  1. Kampung Bugis Angantiga

    Kampung ini terletak di Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, buruh, dan pedagang. Penduduk desa ini dapat menjalin hubungan harmonis dengan penduduk lain yang beragama Hindu. Ketika umat Islam di desa ini merayakan hari besar, umat Hindu membantu kelancaran perayaan hari besar itu. Begitu juga sebaliknya, apabila umat Hindu merayakan hari besar, umat Islam juga membantu mereka.

    Menurut sejarah, Desa ini dinamakan desa Angantiga karena tiga orang dari Suku Bugis Bone berhasil membantu Puri Carangsari mengalahkan penjajah. Atas jasa yang diberikan 3 itu kemudian mereka diberi hadiah tanah oleh Puri Carangsari yang akhirnya diberi nama ‘angantiga’.

  2. Kampung Muslim Kusamba

    Kampung Kusamba terletak di Kabupaten Klungkung, Bali bagian Timur. Di kampung ini, banyak wanita muslim yang mengenakan jilbab. Sementara kaum prianya bersongkok. Kaum muslim di kampung ini banyak menyerap kebudayaan Hindu. Banyak nama orang Islam di sana yang menggunakan kata Wayan, Ketut dan Nengah.

    Agama Islam telah lama tumbuh di Kampung Kusamba. Di kampung ini terdapat makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid, seorang penyebar Islam di Bali. Di kampung ini juga terdapat Alquran tua yang usianya telah mencapai 400 tahun.

    Hubungan masyarakat kampung yang mayoritas keturunan Banjar ini dengan kampung lainnya yang beragama Hindu sangat baik. Masyarakat Hindu bersikap toleran terhadap warga Muslim. Mereka memberi kebebasan kepada warga Muslim untuk menjalankan ritual keagamaan yang diyakininya. Terbukti di kampung ini terdapat masjid yang cukup besar, bernama Masjid Al-Huda. Juga sarana pendidikan berupa sekolah Islam. Yang menarik, ternyata masyarakat Klungkung mengakui bahwa hubungan masyarakat Muslim di kampung tersebut dengan pihak kerajaan sangat baik.

    Hubungan antara umat Islam dan umat Hindu berjalan harmonis. Meskipun memiliki perbedaan agama tetapi mereka dapat hidup dengan rukun. Mereka juga saling menghormati dalam masalah pelaksanaan ibadah masing-masing.

  3. Kampung Muslim Gelgel


    Kampung muslim ini terletak di Kabupaten Gelgel. Di kampung inilah komunitas muslim pertama berkembang di Bali. Islam masuk ke Bali di bawa oleh orang Jawa. Mereka kemudian mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Masjid itu menjadi masjid tertua di Bali dan saat ini bernama masjid Nurul Huda.

    Awalnya mayoritas penduduk kampung Gelgel bekerja sebagai petani. Semenjak sektor pariwisata Bali berkembang, mereka beralih ke usaha konveksi dan kerajinan daun lontar.

    Perkenalan akan Islam di Gelgel berawal dari hubungan antar kerajaan. Yaitu pada masa pemerintahan Raja Gelgel pertama yang melakukan kunjungan ke Majapahit. Mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh Raja Hayam Wuruk Majapahit. Sepulang dari kunjungan tersebut, Ketut Ngulesir, Raja Gelgel pertama diantar oleh 40 pasukan Majapahit yang beragama Islam. Begitulah sejarah awal Islam masuk ke Bali. Saat ini hubungan dengan warga sekitar sangat harmonis, penuh dengan tolerasi dan saling menghargai antar umat yang berbeda agama (Islam, Hindu).

  4. Kampung Islam Keramas

    Kampung Keramas terletak di Gianyar Bali. Pada tahun 2010, penduduk muslimnya hanya sekitar 50 jiwa. Kampung ini cukup jauh jaraknya dari kampung muslim lain. Ini menyebabkan interaksi penduduk kampung Keramas menjadi tidak optimal. Perumahan warga didominasi oleh rumah-rumah sederhana. Masyarakat desa ini mengalami kesulitan secara ekonomi, pembinaan kehidupan agamanya juga kurang.

  5. Kampung Muslim Pegayaman


    Kampung ini terletak di Kabupaten Buleleng. Penduduknya mencapai 5000 jiwa. Meskipun beragama Islam, penduduk kampung ini memegang teguh adat istiadat Bali. Nama yang mereka miliki juga menggunakan nama-nama khas Bali. Ketika hari raya Idul Fitri, masyarakat kampung Pegayaman merayakannya dengan nuansa Hindu yang kental, baik dari hiasan rumah dan pakaian yang dikenakan.

    Masyarakat kampung Pegayaman memiliki tradisi yang berbeda dari kampung muslim lain saat Ramadhan. Pria muslim di kampung ini menjalankan solat Tarawih menjelang pukul 22.00 WITA. Mereka memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk solat Tarawih lebih dahulu karena wanita memiliki lebih banyak kesibukan. Selain itu, masyarakat juga sepakat hanya ada satu masjid di kampung ini yaitu masjid Safi Natussalam. Masjid ini sebagai lambang pemersatu masyarakat Pegayaman.

Ref :http://ramadan.detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: