(SFI VS MFI)MFI Kalah Rasain ….Loh


riri_miraGenderang perang terus ditabuh bertalu-talu oleh MFI ( Masyarakat Film Indonesia ), yang di motori oleh Sutradara Riri Reza Dan Mira Lesmana menuntut untuk di bubarkannya SFI atau lembaga Sensor Film Indonesia, WOW berani banget You…

Apa hebatnya sich Mira Lesmana Dan Riri Reza Cuma Bisa Membuat film film bertema cinta dan penuh dengan adegan porno dan gak mendidik aja bangga, SAmpai berani menuntut untuk membubarkan SFI, bikin film tuch film yang mendidik moral bangsa atau mengandung unsur pendidikan , Seperti misalnya film tentang cerita anak sekolah yang berusaha dan berlomba lomba mendapatkan ranking terbaik di kelasnya, Film tentang adu kecerdasan, Film yang menggunakan technologi canggih seperti film luar negeri, bukan yang porno yang di contoh dari film barat, cukup kecanggihan technologinya saja yang di contoh .., Jika Riri dan Mira bisa bikin Film yang seperi itu Nah tuh baru bisa di bilang Oke

Menurut saya Soal MFI tak lebih adalah soal moral moral mereka yang menghalalkan segala cara demi mencapai kepuasan mereka tersendiri terhadap karirnya tanpa menghiraukan Norma-norma atau Adab yang berlaku di Indoneisa, jadi perlu adanya pendekatan kualitatif estetika. Film itu adalah hak produser, seharusnya protes ditujukan kepada produser.

“Tetapi mereka dalam hal ini MFI tidak berani karena takut tidak dapat kerjaan. Itu tandanya MFI Munafik “Sebenarnya sangat disayangkan, mereka (MFI) telah salah langkah, tuntutan mereka hanyalah meloloskan soal Sex dan Sadisme.

‎“Para sineas yang tergabung MFI itu tidak sadar betapa pentingnya LSF. ‎Apalagi, tugas LSF bukan hanya sekedar menyensor film. Film hanya satu ‎sisi saja. Yang lebih penting bagaimana melalui LSF, bisa menjadi pagar ‎kerusakan moral anak bangsa akibat tayangan yang tidak mendidik seperti ‎sadisme dan pornoaksi di film,” kata Titi Said, Ketua LSF.

Untuk memperlihatkan proses kerjanya, ‎Lembaga Sensor Film memperlihatkan hasil guntingan sensornya dengan mengundang beberapa media, serta tokoh agama ke kantor LSF. ‎Sungguh luar biasa, ternyata banyak adegan dalam film Indonesia yang ‎masuk katagori pornografi. Begitu pula adegan kekerasan yang menjurus ‎sadisme. Memang, gelombang protes terhadap kemenangan film “Eskul” di ‎FFI 2006 merembet kemana-mana. Mereka yang menamakan dirinya MFI ‎kemudian menuntut dibubarkannya 3 institusi, salah satunya adalah LSF.‎

Tapi yang penting Buat saya adalah bahwa MFI kemarin sudah kalah dalam sidangnya melawan SFI, bukan hanya kalah, tapi juga malu-maluin, nuntut kok nuntut gak bener

Di era tahun 90-an, LSF atau yang dulu dikenal sebagai Badan Sensor ‎Film (BSF) sempat agak melonggarkan sensornya terhadap adegan-adegan ‎panas. Di masa yang dikenal sebagai dekade film syahwat itu, justru ‎jumlah film merosot. Film Indonesia dijauhi penonton, dan FFI pun ‎terhenti. Justru di masa reformasi, kalangan sineas menganggap LSF ‎terlalu keras. “Kita masih membutuhkan peran LSF, karena kita tidak ‎ingin anak cucu kita mengalami degradasi moral.

Memang menjadi perdebatan, batasan adegan disebut pornografi, atau ‎sadisme. Mungkin pembuat film menganggap sebagai karya seni. Atau, ‎katakanlah ikut selera pasar. Tapi bukankah tanpa adegan syur, atau ‎kekerasan, dapat dihasilkan karya bagus dan sukses di pasar? Tengoklah ‎film ‘Badai Pasti Berlalu’ atau ‘Nagabonar’.

Hingga kini, protes masyarakat terhadap film dan tayangan televisi yang ‎tidak layak tonton masih banyak muncul. Padahal LSF masih eksis. Lantas ‎kenapa MFI bisa mengusung ide soal pembubaran LSF? Apakah MFI mendukung ‎meluasnya yang namanya pornografi dan kekerasan di masyarakat? Bila LSF ‎dibubarkan, siapa atau lembaga apa yang melakukan sensor? Tentu tak ‎bisa dibiarkan sebuah film langsung diedarkan, tanpa disensor terlebih ‎dahulu. Jangankan gambar hidup, gambar mati saja bisa membuat heboh. ‎Masih segar dalam ingatan, foto syur Anjasmara bersama model, Izabel ‎Yahya, dan masih banyak lagi yang lainnya yang lantas memancing emosi sebuah ormas. Bayangkan bila hal ‎seperti itu terjadi dalam film. Apakah itu artinya, para sineas muda ‎tak peduli dengan pornografi maupun kekerasan?‎,
Bagaimana dengan pendapat anda ( Pembaca situs saya ), silahkan saja berceloteh…! (write by khabibkhan)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. hahaha sekarang terbukti kan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Untuk Rena, Petualangan Sherina, Soe Hok Gie adalah film2 unggulan mereka yang tidak beresek2 dan porno. Dan sepanjang MIles Film membuat film tidak ada tuh yang berbau mesum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: