Muhammadiyah Tidak Beriman


Di setiap menentukan akhir Ramadhan atau awal Syawal, dua aliran islam yakni NU dan Muhammadiyah kerap kali tidak menemukan kesepakatan untuk menentukan 1 Syawal, dan yang saya soroti di sini adalah Muhammadiyah, aliran ini selalu lebaran lebih awal dari yang di tentukan pemerintah dan seakan akan membangkang pada pemerintah. Padahal pemerintah menentukan 1 syawal pun tidak sembarangan, pemerintah menunjuk beberapa cendekiawan muslim, ormas ormas besar islam bersama majelis ulama Indonesia serta menteri agama sebagai perwakilan dari pemerintah untuk menetapkan 1 syawal, dan mereka itu bukanlah orang orang bodoh, namun apa yang terjadi meskipun pemerintah sudah menetapkan 1 syawal jatuh pada tanggal dan hari apa. Meski ada juga yang tetap berlebaran lebih dulu atau lebih awal dari yang di tetapkan, dalam hal ini adalah Muhammadiyah, mungkin bagi mereka suatu perbedaan adalah hal yang wajar namun dalam kenyataanya di lapangan setelah saya amati (saya selaku khabibkhan sebgai pengamat di segala bidang) hal ini sering menimbulkan permusuhan atau saling mengejek dan menghina sesama orang islam. Dan tahukah sauadara saudaraku sekalian bahwa hal ini akan di jadikan pihak ketiga atau pihak lain yang tidak senang dengan islam sebagai suatu celah atau lubang kelemahan untuk mengadu domba dan menghancurkan islam dari dalam, dalam hal ini banyak ulama yang kurang menyadarinya dan dan menjadikan perbedaan sebagai hal yang wajar wajar saya. jadi saya himbau bagi pemerintah untuk mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak mentaati penetapan penentuan syawal dari pemerintah yang di keluarkan oleh menteri agama maka dia adalah orang yang tidak beriman, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisaa ayat 59 yang berbunyi

Yang Artinya:Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Jadi sangat jelas sekali bahwa jika kita beriman kepada allah dan rasulnya juga harus mentaati ulil amri (pemimpin) yang dalam hal ini adalah pemerintah sebagai pimpinan tertinggi ), jadi bagi aliran Muhammadiyah yang kerap kali berlebaran duluan atau siapa saja diantara umat islam yang berlebaran duluan hendaknya mulai lebararan tahun ini1428H / 2007M kita berlebaran menurut tanggal yang di tetapkan pemerintah sehingga kita bisa di sebut sebagai orang yang beriman karena taat pada ulil amri (pemimpin). Catatan: kita wajib taat pada pemerintah dalam hal kebaikan saja tapi jika pemerintah menyuruh untuk pada maksiat maka kita tidak wajib untuk mentaatinya. dalam menentukan 1 syawal itu adalah contoh kita taat pada pemerintah dalam hal kebaikan karena pemerintah telah berusaha untuk menyatukan seluruh kaum muslimin di seluruh Indonesia sehingga akan terciptalah ukhuwah islamiyah (persatuan dan persaudaraan antara umat muslim)

12 Tanggapan

  1. wahai saudaraku khabibkan, anda tidak menginginkan adanya ejekan, sebaiknya andapun tidak gampang untuk menghujat, saya bukan ornag Muhammdiyah dan juga bukan NU saya hanyalah seorang hamba Allah yang meyakini Tida Tuhan Selain ALLAH dan Muhammad SAW adalah utusan ALLAH, nabi dan Rasul terakhir.
    Hujatan Muhammadiyah tidak beriman, mohon anda koreksi, janganlah sesama muslim saling mengejek, marilah kita bersatu, toh masing masing ormas memiliki ahli di bidangnya, di mana para ahli di masing masing ormas baik Muhammadiyah maupun NU saling menghormati, mereka sama sama SUNI, tidak saling menyalahkan karena masing-masing bersandar pada dalil Qur’an dan Hadits, mari kita rapatkan barisan dalam membentuk Ittihadul Muslimin demi terwujudnya Izzatul Islam, amiin

  2. kalo buat Muhamadiyah “ulil amri” buat mereka adalah ulama2nya bagaimana?

  3. Buat abu miqdad, Bukannya bermaksud menghujat, mengejek atau apakek, saya hanya menyatakan unek unek yang ada dalam hati saya, karena di kala umat islam sedang berbeda pendapat yang bertahun tahun tidak ada kunung selesainya dan mereka tetap berpagang pada prinsipnya masing2 alangkah baiknya untuk menyatukan perbedaan pendapat tersebut kita patuhi saja pada pimpinan (ulil amri ) paling tertinggi yaitu presiden. Karena jika kita mengaku beriman, maka kita harus taat pada ulil amri dalam hal ini pimpinan tertinggi adalah presiden. Dan jangan pada golongan masing masing karena tidak akan menyelesaikan masalah. Karena jika di biarkan berlanjut lanjut maka di khwatirkan akan mengakibatkan perpecahan di kalangan umat islam itu sendiri.

  4. Kalau muhamadiyah menganggap ulil amri adalah ulama2nya berarti dia mementingkan kepentingan pribadi bukan untuk kemaslahatan umat

  5. Kok pada ribut2x seh disini…. ngapain Ngomongin yang beraty2x….jangan pada ngomong kelas tinngiiiiiiii…..
    mendingan Ente -Ente pada ngurusin Masjid, Musholla masih ada apa ngga Jama’ahnya, jangan ngurusin yang tinggi2x…
    tau diriiiiiiiiiiii…..
    Okay… Wassallam

  6. demi persatuan islam,janganlah saling mencela,karna ada pihak ketiga yg memanfaatkannya.
    Para ulama dari organisasi NU dan MUHAMMADIYAH pasti punya alasan knp menggunakan rukyat/hisab.
    Cobalah cari alasan mereka di situs resminya.
    Sehingga kita bisa berfikir terbuka,dan jangan saling menyalahkan.demi persatuan islam

    @tipi: bener tuh,coba cek masjid2 apa jamaahnya dikit/bnyak,…karna umat non muslim sangat takut lok sholat jamaah 5waktu tu,jamaahnya sperti jamaah sholat jumat,yg bnyak.

  7. Jika kita memasuki kawasan hukum Islam (fikih), maka kita tidak akan lepas dari terjadinya perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Hal ini disebabkan obyek bahasan fikih biasanya adalah masalah-masalah ijtihadiyah, yaitu masalah yang untuk menen-tukan hukumnya harus dilakukan ijtihad lebih dahulu.

    Sebagai contoh, dalam masalah hukum membaca Quran bagi orang yang sedang haid, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan hukumnya tidak boleh, dengan alasan bahwa pada saat sedang haid, manusia dalam keadaan tidak suci dan ada Hadis yang melarangnya. Ada pula yang membolehkannya, dengan alasan tidak ada dalil yang menunjukkan ketidakbolehannya. Contoh lainnya adalah seorang istri yang ditalak tiga oleh suaminya. Istri yang dalam keadaan seperti ini tidak boleh dirujuk oleh suaminya kecuali jika ia telah menikah dengan suami baru dan suaminya yang baru itu telah menceraikannya. Inilah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Quran surat al-Baqarah (2): 230. Yang diperselisihkan adalah apakah istri dan suaminya yang baru itu harus melakukan persetubuhan terlebih dahulu sebelum mereka bercerai. Sebagian besar ulama berpen-dapat bahwa sebelum diceraikan, istri harus disetubuhi dahulu oleh suaminya yang baru. Akan tetapi Sa’ied ibn Musyayyab berpendapat bahwa suami pertama boleh menikah kembali dengan istrinya itu setelah diceraikan oleh suami barunya, walaupun belum disetubuhi. Kedua contoh ini merupakan masalah yang masuk dalam wilayah fikih. Oleh karena itu, dalam menetapkan hukumnya, keduanya tidak luput dari terjadinya perbedaan pendapat.

    Faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam fikih sangat banyak, sehingga di antara para ulama terjadi perbedaan argumentasi tentang faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan-perbedaan itu dalam fikih. Dalam makalah ini penulis mencoba menggabung argumentasi-argumentasi para ulama tersebut.

    Di antara faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat itu adalah:

    1. Perbedaan mengenai sahih dan tidaknya nash.

    Kesahihan suatu nash (dalam hal ini Hadis) kadang-kadang diperdebatkan. Ada ulama yang mau menerima kesahihan suatu nash dan ada pula yang menolaknya. Hal ini terjadi karena mereka berbeda pendapat dalam menilai tsiqat (terpercaya) tidaknya seorang perawi, lemah tidaknya matan dan sanad suatu Hadis jika dibandingkan dengan matan dan sanad lain. Ada seorang mujtahid yang menggunakan suatu Hadis sebagai hujjah karena perawinya ia anggap dapat dipercaya, tetapi oleh mujtahid lainnya Hadis tersebut ditolak, karena, menurutnya, perawi Hadis itu tidak dapat dipercaya.

    2. Perbedaan dalam memahami nash.

    Dalam suatu nash, baik Quran maupun Hadis, kadang-kadang terdapat kata yang mengandung makna ganda (musytarak), dan kata majazi (kiasan), sehingga arti yang terkandung dalam nash itu tidak jelas. Terhadap nash yang demikian ini, para ulama berbeda-beda dalam memahaminya. Misalnya kata قُرُوْءٍ (qur­’) dalam surah al-Baqarah (2): 228 mempunyai 2 arti, “suci” dan “haid”, sehingga dalam menafsirkan ayat tersebut para mujtahid berbeda pendapat. Di samping itu, perbedaan pemahaman ini juga disebabkan perbedaan kemampuan mereka satu sama lain.

    3. Perbedaan dalam menggabungkan dan mengunggulkan nash-nash yang saling bertentangan.

    Dalam suatu masalah kadang-kadang terdapat dua atau lebih nash yang bertentangan, sehingga hukum yang sebenarnya dari masalah tersebut sulit diputuskan. Untuk memutuskannya biasanya para ulama memilih mana nash yang lebih kuat (arja¥) di antara nash-nash itu, atau mencari titik temu di antara nash-nash tersebut. Dalam mengambil keputusan dan mencari titik temu inilah biasanya para ulama berbeda pendapat.

    4. Perbedaan dalam kaidah-kaidah ushul sebagai sumber intinbath.

    Para mujtahid, dalam memilih suatu Hadis atau mencari suatu dalil, mempunyai cara pandang dan metode yang berbeda-beda. Suatu Hadis, yang oleh seorang mujtahid dijadikan sebagai dalil dalam suatu masalah, mungkin saja ditolak oleh mujtahid lain dalam masalah yang sama. Hal ini disebabkan sudut pandang mereka terhadap Hadis itu tidak sama. Ada mujtahid yang mengambil perkataan atau fatwa seorang sahabat Nabi dalam memecahkan suatu masalah, tetapi ada pula mujtahid yang menolaknya, tidak mau mengambil fatwa sahabat tersebut. Begitu pula ada mujtahid yang menjadikan amaliah penduduk Medinah sebagai hujjah, tetapi oleh mujtahid lainnya ditolak. Hal ini karena mereka mempunyai metode yang berbeda dalam menentukan suatu hukum.

    5. Perbedaan dalam perbendaharaan Hadis

    Di antara para sahabat, kemungkinan besar, banyak yang koleksi Hadisnya tidak sama dengan sahabat lainnya. Hal ini karena tidak mungkin mereka selalu bersama-sama berkumpul atau mendampingi Nabi. Mungkin saja pada saat sahabat yang satu sedang bersama Nabi sedangkan sahabat yang lain tidak hadir, sehingga pada saat Nabi mengemukakan suatu masalah ia tidak tahu. Oleh karena di antara para sahabat sendiri koleksi Hadisnya tidak sama, maka sudah barang tentu di antara para mujtahid pun akan terjadi hal yang sama. Perbedaan koleksi Hadis yang dimiliki para mujtahid ini pada gilirannya akan menyebabkan mereka berbeda pendapat.

    6. Perselisihan tentang ilat dari suatu hukum

    Perselisihan para mujtahid mengenai ilat (`illah=sebab) dari suatu hukum juga merupakan salah satu sebab terjadinya perbedaan pendapat dalam fikih. Sebagai contoh, dalam Islam kita diperintahkan untuk berdiri jika bertemu dengan usungan jenazah. Para mujtahid berbeda pendapat tentang siapa jenazah itu, orang Islam, orang Kafir, atau kedua-duanya. Sebagian besar mujtahid berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah kedua-duanya, jenazah orang Islam dan Kafir. Jadi, umat Islam diperintahkan untuk berdiri jika bertemu dengan usungan jenazah, baik jenazah orang Islam maupun orang Kafir. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa perintah untuk berdiri itu hanya terhadap jenazah orang Kafir. Hal ini karena di dalam sebuah Hadis diterangkan bahwa pada suatu hari, ketika sedang berjalan, Rasulullah saw. bertemu dengan jenazah orang Yahudi, lalu beliau berhenti dan berdiri.

    Sikap Kita Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat Dalam Hukum Islam

    Perbedaan pendapat mengenai masalah-masalah yang ada dalam fikih harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Kita tidak boleh bersikap apriori dengan langsung menyalah-kan satu pendapat dan membenarkan pendapat lainnya. Sikap apriori yang semacam ini dapat memicu terjadinya perpecahan di kalangan umat. Masalah yang biasanya menimbulkan perbedaan pendapat dalam fikih adalah masalah furu’iyah (cabang), bukan masalah pokok. Oleh karena itu, mempertajam pertentangan atau perbedaan pendapat dalam maslah cabang ini hanyalah membuang-buang waktu dan energi.

    Sebenarnya di antara para imam mazhab sendiri tidak ada satu pun yang merasa pendapatnya paling benar. Mereka tidak saling menyalahkan, apalagi menjatuhkan. Bahkan di antara mereka tidak ada yang menyuruh orang untuk hanya mengikuti pendapat mazhabnya, karena mereka menyadari bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan lupa. Imam Malik pernah berkata :

    “Saya ini tidak lain, melainkan manusia biasa. Saya boleh jadi salah dan boleh jadi benar. Maka oleh sebab itu, lihatlah dan pikirlah baik-baik pendapat saya. Apabila sesuai dengan Kitab (Al Qur’an) dan Sunnah, maka ambillah ia dan jika tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah ia.”

    Imam Syafi’i pernah berkata kepada Imam Ar-Rabi’:

    “Apa saja yang telah berlaku menurut sunnah Rasulullah s.a.w. padahal bersalahan dengan mazhabku, maka tinggalkanlah mazhabku itu karena sunnah itulah mazhab yang sebenarnya.”

    Jadi jelaslah bahwa di kalangan imam mazhab sendiri tidak terjadi perselisihan, apalagi perpecahan. Mereka sebenarnya telah benar-benar memahami Hadis Rasulullah saw. yang berbunyi:

    اختلاف أمتي رحمة

    “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah suatu rahmat.”

    Di sini Rasulullah memberikan isyarat kepada umatnya bahwa perbedaan pendapat itu pasti terjadi di antara sesama umat Islam. Dalam Hadis itu pula beliau mengajarkan umatnya bagaimana menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Di sini tam-pak bahwa beliau ingin agar perbedaan pendapat itu justru mempersatukan umat, bu-kan masalah memecah-belah mereka. Carilah hikmah di balik perbedaan-perbedaan itu.

  8. pada saat lebaran kemaren lebaran seharusnya tanggal 29 karna bulan sudah muncul sedangkan NU tidak melihat bulan
    jadi lebaran d undur tanggal 30 bukan bukan kah sudah lebih dari satu syawal jadi jangan beranggapan mu hammadiyah itu sesat

  9. jgn ngurusin perbedaan saudara2ku seiman sebangsa dan setanah air, jadikanlah perbedaan itu untuk semakin mendekatkan diri kita kpd Allah SWT kita terlahir kedunia ini salah satunya adalah krn perbedaan, apakah ibu & bapak kita sama2 laki ? atau sama2 perempuan atau barang kali sama2 banci., coba antum pikirkan.. Tuhan menciptakan semuanya mempunyai perbedaan . anak kembar saja pasti mempunyai perbedaan. semoga kita semua selalu menjadi orang2 yg selalu mengambil hikmah yg terbaik dari perbedaan itu.

  10. Yg bikin post ini orang kafir, kamu yg sebanarnya pengadu domba. Aku hamba اَللّهُ yg biasanya hidup dijalanan/trotoar. Tp sedikit banyak saya bisa membaca kehidupan. kenapa kita harus mengikuti pemimpin kita jika pemimpin kita adalah sebenarnya sampah masyarakat alias koruptor. Memang perbedaan itu wajar, asal masih pada ketentuannya.

  11. setiap perbedaan dalam segala hal adalah sebagaikan wacana untuk menambah wawasan, bukannya untu saling menjatuhkan dan saling mencari pembenaran. semoga kita semua tetap ikhlas dan sabar, aamiin.

  12. yg penting sudahkan kalian melaksanakan sholat 5 waktu anda…disitu kalian akan memahami dg kekhusyukan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: